How I Meet My Husband

by - Agustus 25, 2018


Setelah hari itu aku lalui dengan acara quality time dengan ayah, aku berbelanja banyak buku di sebuha toko buku di pusat kota dan kami berdua makan di sebuah resto jepang dan menjelang magrib kami pun beranjak pulang kembali ke rumah. Tidak ada percakpan berarti selama di rumah, namun tanpa sepengetahuanku mungkin saja, mamah dan papah membahasnya di balik hari itu, aktivitas apa saja yang telah kami lakukan.
Tiba hari itu, hari Sabtu di saat aku sedang bersiap untuk berangkat kerja di pukul sebelas siang, aku mendapat broadcast tentang acara keakraban muda-mudi di sebuah grup Whatsapp. Ketika aku loading pamflet tersebut, aku cukup tertegun karena kebetulan acaranya di sekitar rumah, namun hari itu bukan jadwal aku untuk pulang ke rumah, sehingga kuurungkan niat tersebut. Tak lama setelah aku pertimbangkan kembali, aku mengirim pesan kepada mamah dan bertanya perihal acara tadi sehingga aku cukup bisa memastikan dan mendapat saran dari mamahku yang cukup manjur di saat-saat genting seperti ini.
Mamah cuma bisa mengemabalikkan kesemuanya padaku, dan dengan kalimat pamungkasnya “ya, itu terserah kakak”. Akhirnya dengan cukup rasa terpaksa dan aku kebetulan juga akan meet up dengan teman satu grup Whatsapp itu, aku akhirnya membulatkan tekad untuk selepas kerja akan pulang ke Karawang dan datang untuk acara besok.
Aku sampai di rumah sudah cukup malam, saat itu pukul 8 malam. Aku langsung bersiap untuk istirahat dan sedikit berbincang ringan dengan mamah.
Esok harinya, aku berangkat bersama dengan para muda-mudi yang merupakan tetangga satu pengajian dan tiba di lokasi pukul 9 pagi. Masjid itu tampak lengang dan tidak cukup banyak orang yang datang. Registrasi pun dimulai dan aku mulai menjalani berbagai rangkaian acara. Dari proses foto, pembagaian kelompok, pemberian nasehat dari bapak narasumber hingga pada penghujung acara, yang dikenal dengan romantic room. Romantic room, aku sesungguhnya diseret secara "paksa" karena aktualnya aku sehabis dari toilet dan saat masuk langsung di paksa ikut ke atas lalu di pertemukan dengan seorang lelaki, aku sebut saja mas E ya haha. Fisrt impression sih, aku emang kebiasa ketemu orang baru dan ngajak ngobrol secara general gitu. Dari situ kita udah bisa kerasa feel-nya kok, mau terus apa yaudah cukup perkenalan disitu aja tidak menjadi sesuatu yang perlu dipertimbangkan ulang. Kisah romantic room itu sempat heboh di kalangan ibu-ibu kompleks perumahan aku dan aku cuma bisa ketawa doang saat mamahku konfirmasi tentang aku sedang berproses bersama seseorang. Aku cuma bisa menjawab sesuai apa yang aku rasa, "Oh itu, iya sih kaka romantic room dengan sesepria yang sejauh kita ngobrol, cuma cukup sampai disitu aja kok mah. Doain kaka ya, bisa bertemu jodoh yang memang Allah kasih buat kaka."
Lanjut ya, singkat ceritanya, disingkat yaaa soalnya panjang kali lebar bisa basa-basinya ntar, haha. Aku ber-chit chat dengan bapak narasumbernya untuk bisa dimasukkan grup para muda-mudi gitu, bukan modus apa gimana, namanya juga usaha kan..Jadi aku tuh emang lagi memperbanyak circle pertemanan lewat grup-grup pengajian yang isinya para muda-mudi yang syukur-syukur kalo mendatangkan jodoh kan, karena aku yakin jodoh mah emang gabakal kemana dan kadang tak dipertemukannya dengan sesuatu yang gak disangka-sangka.
Ketika aku berchit-chat dengan Pak Supatmo ini (namanya ya, so kalo mau minta dilancarin bisa berkontak sama bapaknya () aku seperti biasa memperkenalkan diri, dan emang dasar emang anaknya terkadang suka SKSD, entah kenapa berasa PD gitu aja ketika berchit-chat sama beliau. Selama chit-chat itu, bapak minta data diri aku dan menanyakan apakah aku sudah siap menikah di tahun ini. Yasudah, ku jawab saja kan...
“Saya mah pak, insya Allah kalo niat menikah sudah ada, semoga ada yang cocok dan orang tua merestui. Cocok secara visi misi ya pak, soalnya terkadang melihat dari beberapa proses sebelumnya, banyak makan hatinya pak, nyeseknya tuh ga usai-usai (lhaaa jadi curcol gue).
Tapi jujur, menyampaikan hal ini sedari awal, memang itulah tools yang aku pribadi gunakan untuk memaksimalkan ikhtiar pencarian jodoh. Setidaknya orang yang kita mintai tolong, atau perantara tersebut mempunyai pandangan jauh tentang kita, sebagai refrensi gitu akan dikenalkan dengan seseoarang yang seperti apa, kurang lebih begitu sodara-sodara. Dan pak Patmo itu baru kenal banget ya di chat yang gara-gara akunya sok SKSD banget haha.
Jadi pesenku, maksimalkanlah usaha dan ikhtiar itu dengan tidak sungkan-sungkan untuk menjalin circle networking dengan siapapun, kalau itu hadiahnya berupa jododh ya alhamdulillah namun bisa juga dengan rezeki Allah dalam bentuk lainnya, inget juga sebuah nasehat tentang silahturahim itu akan memperpanjang rezeki, ya disitulah aku bisa memaknai dengan sangat-sangat.
Suatu hari yang menjadi titik awal momen ini tercipta, yaitu sore hari sepulang aku kerja, aku melihat ada chat dari pak Supatmo yang langsung saja bergegas aku buka dan baca, dan udah kebayang kan isinya?
Yap, persoalan tentang, ada kedua orang tua yang ingin berkenalan dengan aku dan kedua oang tua tersebut sudah setuju jika anak mereka diperkenalkan denganku. Aku sempat defense ketika chat ini masuk dan otak aku berpikir cukup keras, mengingat aku pernah mengalami hal yang sama persis dan endingnya aku merasa di PHP dan dipermalukan gitu sehingga membuat harga diri aku yaaa sedikit goyah. Jadi pastikan bahwa ketika ada kedua orang tua tersebut sudah setuju dengan diri kita, maka apakah satu suara juga dengan anak lelakinya, jangan sampai ketika sudah orang tua tersebut setuju namun ketika di konfirmasi ulang, ada kabar bahwa sebenarnya ada anak lelaki mereka belum siap untuk menikah, lalu jika sudah seperti itu, siapa yang akan merasa jengah gaess??
Intinya, ketika berproses pastikan semua komunikasi benar adanya, benar adanya tuh detail pengecekannya harus benar-benar detail. Dimulai dari data diri yang masuk dan perkenalan disaksikan dengan sebenar-benarnya oleh pihak yang sudah kita percayai.
Aku cukup lama umengolah kata-kata untuk balasan ke pak Patmo, karena aku pun menjaga bahwa ya jangan terlalu ngarep juga gitu namun jinak-jinak merpati, cieeeelah. Intinya, aku membalas bahwa aku sangat open ketika ada seseorang yang mau berproses denganku, asalkan dengan syarat satu visi misi denganku yang sudah aku sampaikan sejak awal ke bapaknya. Biarlah aku dikatakn sebagai wanita yang terlalu muluk seperti orang yang akan mendirikan sekolah, karena aku percayai bahwa membangun rumah tanga itu harus tegak pondasinya, harus jelas juga visi misi keluarga yang akan dibangun, karena jika dari visi misi hidup tidak jelas atau bahkan tidak tahu, mau seperti apa nanti ketika membangun rumah tanga, pikirku. Terkesan teoritis banget ya, tapi ini modal awal untuk kedepannya lebih smooth dalam melakukan komunikasi atau negosiasi, yang tak ayal ketika di perjalanan pernikahan banyak terjadi friksi yang mau gak mau akan kita hadapi berdua. Dan salah satu tools untuk mengetahui apakah sefrekuensi atau enggak nya dengan kita, bisa dengan dimulai dari obrolan ini. Karena, saat bertemu pertama kalinya, pertama lho ya, bingung gitu kan mau bahas apaan, kepikiran boring pastilah ada, tapi kalo diawal sudah dirancang hal-hal apa saja yang akan kita ajukan sebagai pertanyaan, maka insya Allah lebih ngalir aja gitu obrolannya dan lebih terarah menuju goal untuk sampai ke pernikahan. Karena tujuan berkenalan adalah untuk menikah, ya gak? Aku sih yes.
Nah, sambil aku menunggu balasan lagi dari pak Supatmo, aku pun mulai sholat hajat dan sholat istikoroh bahwa aku mohon di mudahkan dan dipilihakan yang terbaik oleh Allah jika harus melalui jalan taaruf yang insya Allah aku yakini kebaikannya ini. Lalu aku pun sambil pararel meminta nasihat dan pandangan dari mamah, disitu aku belum mau bercerita ke papah dan ketika di telfon oleh mamah baru aku berani whatsappke papah.
Mamah pun meminta update terus dari aku dan berpesan kepadaku untuk terus banyak berdoa. Disitu aku sempat beropini bahwa aku takut sama seperti sebelum-sebelumnya, yang seperti iya namun pada akhirnya tidak, ya mamah tetap menyarankan aku tidak boleh seperti itu karena jodoh adalah pure dari Allah datangnya, mungkin sekarang waktunya sudah pas untuk kamu bertemu jodoh, begitu kata mamah.
Setelah selesai telfon, aku mengecek kembali pesan dari pak Patmo dan membawa isi pesan yang berupa detail pribadi seseorang yang akan dikenalkan kepadaku itu. Selang beberapa waktu, aku beru sadar bahwa untuk memastikan anaknya mau untuk di ajak berkenalan denganku itu satu hari satu malam, karena kabarnya, pak Patmo tidak ada kontak mas nya ini (dan setelah waktu lamaran selasi, abang baru cerita kalau ia sengaja ganti no whatsapp untuk tidak diketahui oleh beberapa orang yang berusaha menjodohkan dengannya, dasar).
Lanjut yaaa..After menyesuaikan dengan segalanya, aku tidak langsung di kasih nomor whatsapp karena berkaitan dengan proses taaruf ini agar segalanya harus di awali dengan yang baik, jadi aku ikut-ikut aja ketika ada kabar dari pihak abang yang udah sreg sama aku dan mau lanjut ke proses selanjutnya. Jujur kalau dari aku, seneng-seneng aja denger info seperti ini, karena ya gimana ya, sebagai perempuan aku merasa di hargai dengan berlanjutnya proses dengan segala kejelasannya. Setelah dilanjut dengan proses, aku pun di telfon oleh papah dan bertanya banyak tetang proses taaruf ini.
Fyi aja, aku sempat desperate abis saat kondisi keluargaku terutama kedua orangtuaku yang saling LDM seperti ini, sehingga ada sebuah tantangan baru untuk mengintegrasikan cara komunikasi agar benar dan tidak terjadi misscommunication.
Jadi, aku sempat bercerita kepada mamah secara singkatnya seperti ini,
“Mah, kayaknya kakak akan bakal sulit ya berproses dengan jodoh kaka kalo kondisi papah masih jauh kayak gini, rasanya kayak impossible banget gitu gak sih mah, buat ketemu sama calon pendamping hidup kaka tapi papah masih jauh disana, apa kalo minta restu harus ke Papua dulu?”
Lalu mamah pun menjawab, “Jadi gini sih kak, percaya kan sama kekuatan doa? Dan ada 3 jenis doa yang sudah berkali-kali dinasehatkan saat kita ngaji, kalo ada yang langsung dikabulkan, ditunda atau bahkan di ganti oleh Allah. Karena sesungguhnya semua makhluk yang ada di muka bumi ini oleh Allah beri nikmat rezeki, sama halnya dengan jodoh. Dan kaka harus yakin dengan kekuatan doa kaka walaupun mamah tau proses-proses kaka kemarin itu cukup menyakitkan buat kaka, semoga Allah akan beri yang terbaik setelah ini. Juga perihal jauh dekatnya papah, tidak menjadi halangan kita untuk menjemput jodoh impian kita, karena setiap kita akan mendapat jodohnya masing-masing dan orang tua tinggal merestui saja, jadi kaka gaperlu khawatir.”
Namun, disitu aku masih ngeyel dengan pemikiran aku sendiri yang keukeuh kalo sepertinya impossible gitu lho, karena ini tuh calon suami kita dan bakal jadi suami kita sampai akhir hayat kita nanti, yang akan membersamai kita selamanya dan nemuin hal-hal yang bukan baik-baiknya kita aja, semuanya akan terungkap juga pada akhirnya, kalo semisal di awal nerima karena terlihat baik namun saat perjalanan who know akan dibolak-balikkan hatinya oleh Allah?
Mamah sepertinya mengerti kecamuk yang ada dipikiran aku, langsung memegang pundakku dengan lebih erat bersamaan dengan sorot matanya yang menandakan keseriusan,
“Kak, mamah pernah cerita kan, kalo semisal sesuatu perkara terasa sangat menyikitkan hingga untuk menelan pun rasanya begitu pahit, bahwa sesungguhnya perkara tersebut akan menemukan sebuah titik terang dan seperti yang berpuasa akan bertemu dengan waktu berbuka.”
Priceless sih, ketika dapat weajangan terus dari mamah tapi aku masih tegak dengan kecamuk pikiranku yang mengatakan, “Mana bisa sih, kayaknya gue halu banget”.
Dan saat itulah akhirnya tiba, ketika ada seseorang yang dengan terbuka lebar hati dan pikirannya unutk mengajak aku menikah dengan proses perkenalan yang bisa dibilang aku tidak mengerti rimbanya. Bukan dari satu lingkaran pertemnan yang sama, bukan juga dari satu pekerjaan dan background kehidupan yang berbeda, membuat aku semakin kagum dengan setiap skenario yang Allah atur terhadap hambanya-Nya. Disitu aku semakin terharu karena Allah itu maha romantis banget dengan mampukan pertemukan aku dengan abang yang sudah mengesampingkan egonya untuk memberanikan diri bertemu dengan mamah dan aku. Juga sangat serius untuk proses setelah taaruf ini.
Setelah aku bercertia panjang kebar dengan papah, karena sebelumnya mamah sudah mengirimkan data berupa profil dan beberapa data diri singkat abang kepada papah, dan papah over all setuju dan meminta aku untuk banyak berdoa dan mohon diberi yang terbaik oleh Allah. Papah pun berpesan untuk tidak banyak menaruh harapan terhadap manusia, karena kembali pada sebuah nasihat bahwa ketika kita banyak berharap kepada manusia, banyak juga petikan kecewa yang kita peroleh. Aku pun bertanya kepada papah, apa yang membuat papah yakin untuk aku berproses dengan abang.
Papah hanya berecerita, bahwa hati nurani kedua orang tua tidak bisa di tipu daya dengan hal apapun, apalagi dari segi materi. Karena sedari awal papah sudah mewanti-wanti aku untuk tidak tergiur dengan harta yang dimiliki oleh orang lain. Papah juga sudah mengajari aku banyak hal tentang bekerja keras dan mandri sehingga tidak banyak bergantung pada orang lain. Dan papah secara keseluruhan menyukai apa-apa yang ada di diri abang, secara tidak sadar papah juga sudah stalking akun instagram abang.
Lama setelah komunikasi internal aku lalui, aku mendapat kabar bahwa akan diadakan pertemuan selama seminggu kedepan untuk bertemu antara aku, abang dan keluarga. Aku selama penjadwalan pertemuan itu, tidak ada komunikasi sama sekali dan anehnya aku sudah berusaha mencari-cari akun media sosialnya di semua platform, dimulai dari FB, Twitter, Instagram, bahkan aku mencari di keyword google dengan nama lengkapnya, namun nihil yang didapat. Aku mencoba benar-benar pasrah gitu sama Allah, yakin bahwa Allah ga akan mungkin mendzalimi hamba-Nya, ketika nanti kecewa yang didapat, aku mulai belajar membesarkan hati aku mulai dari sekarang. Dan jadi keinget juga nasehat kalo namanya taa’ruf itu ada aja kegagalannya dan bahkan ada yang beberapa kali gagal dalam taa’ruf malah makin mengencangkan ikhtiar langitnya, yaitu dengan doa.
Saat itu tiba di tanggal 10 Februari 2018, pada hari Jum’at sore aku mendapat info dari pak Patmo untuk bersiap di hari Sabtu pukul berapa dan di resto mana. Aku sempat bingung mencari resto mana yang cocok untuk pertemuan ini dan jatuhlah pada pilihan kami yaitu Brew Bean Cafe yang berada di dalam ruko Grand Taruma Karawang. Aku membalas chat bapak dengan agak bingung, karena sudah aku informasikan bahwa aku sabtu itu masih bekerja dan kemungkinan bertemu di hari Minggu. Alhamdulillah sedikit misscom bisa diatasi dan hari minggu itu tiba aku sempat yakin dan tidak yakin dengan mengusahakan mengenakan busana terbaik aku dengan kaftan berwarna biru salem dan sedikit polesan make up, aku sempat menanyakan kepada mamah apakah aku mengenakan kacamata atau tidak.
Kami berangkat pukul 11 siang dan sampai di lokasi pukul 12 dan secara bergntian aku dengan mamah solat dzuhur disana. Oh iya, sebelumnya aku telah booking beberapa seat untuk tempat pertemuan kami, mengingat jam pertetuan kami adalah di makan siang. Jadi pesan aku ketika mengadakan pertrmuan, buktikan bahwa kita menjamu tamu dengan sebaik-baiknya dan usahakan yang terbaik dan itu juga pesan dari papahku.
Waktu berjalan terus hingga tiba pada pukul satu siang pak Patmo mengabarkan sedang menuju ke lokasi. Sebenarnya reaksiku agak sedikit nerveous dan gugup serta rasanya tanganku dingin seperti es namun aku berusaha menampiknya dengan terus meminta kabar dari pak Patmo. Selang beberapa menit kemudian, pak Patmo berkabar bahwa sudah sampai di area water park dan itu posisinya melewati dari Cafe ini. Aku langsung bergegas keluar cafe dan menunggu di sepanjang trotoar agar ketika berbelok arah lagi, tidak kebabalasan.
Saat aku menginfokan outfit apa yang sedang aku kenakan, aku menangkap siluet abang dari kejauhan dan aku tidak berpikiran macam-macam sih. Aku membatin agar diberi yang terbaik dari hasil hari ini.
Dan setelah mereka selesai parkir, yang pertama aku beri salam adalah pak Patmo dengan sedikit membungkukkan badan dan tersenyum lalu di sambut dengan ibu abang yang langsung memelukku. Disitu aku sedikit aneh karena itu adalah kali pertama aku bertemu dengan ibu dari lelaki taaruf-an yang dengan sangat ramah juga terbuka. Ibu langsung mengulurkan tangan untuk dapat mendekap aku. Entah kenapa ada perasaan yakin ketika melihat sorot dari tatapan wajah ibu dan aku pun memberi salam kepada ayahnya abang. Di lanjut dengan kemunculan abang di balik tembok karena lokasi parkir agak masuk ke area dalam, aku sedikit terhenyak karena terkadang benar, sesuatu itu tidak sesuai dengan ekspetasi. Aku agak sedikit kecewa karena, yaaa tidak seperti bayangaku dari secara fisik yang aku nilai, apalagi prosesnya aku bertemu langsung seperti hari ini.
Aku berulang-ulang memberi mindset, jangan melihat dari fisik dan toh disitu aku belum menjalin interaksi dengan ia dan baru bisa melihat secara fisik saja. Lalu aku duduk berjauhan, dan pak Patmo mengarahkan agar kami duduk berdua secara terpisah (di kursi yang hanya untuk 2 orang). Lalu aku menurut saja dan ia mengikuti dan duduk. Tak banyak basa-basi aku langsung meminta ia untuk memesan dan sesungguhnya aku canggung banget dan ga ngerti harus kayak giamna, kalo di inget-inget kayaknya aku menjamu abang sangat kaku deh di hari itu. Aku tidak peduli dan ia memesan secangkir ekspresso dan aku memesan satu piring nasi ikan dori dengan sambal matah, aku bertanya padanya mengapa tidak memesan nasi, dan ia menjawab “iya nanti gampang.”
Yasudah dan setelah memesan aku mulai membuka obrolan dan setelah obrolan itu mengalir, aku rasa semua pertanyaan-pertanyaanku selama ini terjawab dengan begitu mengalir olehnya, dan selama percakapan itu ia menunjukkan bahwa telah follow instgramku dair 5 hari yang lalu dan jujur aku gak ngerasa banget. Disitu berasa “kok bisa ya kayak gitu?” dan dia cuma bisa nyengir dan aku pun mulai memberondong nya dengan segala pertanyaaan yang sudah aku siapkan di notes HP.
Jadi, sebelum pertemuan itu, aku punya buku serial wonderful family milik pak Cahyadi Takariawan. Salah satunya adalah wonderful journey yang cocok untuk step-step pra menikah dan saat proses taaruf, aku membolak balik buku itu berhari-hari untuk mencatat beberapa poin penting untuk diutarakan saat taaruf. Giamana pun aku tidak mau lagi di cap sebagai cewek yang idealis ketika aku mengajukan beberapa pertanyaan yang ternyata, lelaki tersebut memiliki mindset bahwa aku ini cewek yang penuh dengan teori dan segala ketakutan tidak berdasar, padahal aku tidak seperti itu. Aku berpikir pada realita yang ada sekarang dan terlebih untuk menyiapkan segala kemungkinan yang ada ketika telah berhasil di bicarakan jauh-jauh hari.
Dan ketika bersama abang ini, aku menemukan jalinan benang merah yang besar karena ia mampukan aku untuk semakin meneruskan pertanyaan dan ia tidak merasa risih dengan pemilihan sikapku ini saat berproses dengannya, yaitu dengan membuat deret pertanyaan.
Sesaat, aku bersyukur bahwa janji Allah itu pasti ketika kita terus berusaha memperbaiki diri maka Allah akan pasangkan kita dengan jodoh yang insya Allah barokah dan aku hanya ingin mencapai ridho-Nya Allah. Disatu sisi aku bersyukur ia satu frekuensk dengan aku dan aku tidak perlu kesulitan untuk giamana-gimana nya dalam perihal membangun rumah tangga yang baiti jannati.
Disitu aku banyak menemukan ketegaran yang berusaha ia lakukan dan perjalanan hidupnya juga tidak cukup mudah. Ia bercerita banyak tentang kegagalannya dalam berwirausaha dan kondisi ia sebagai pekerja swasta terdahulu yang mengharuskan ia shifting, disitu aku merasa bahwa kerja keraslah yang dinilai. Aku tidak menjadikan patokan background seperti apa keluarganya, karena yang aku lihat hanya ia seorang, bagaimanapun aku yang akan hidup berhari-hari dan berbulan-bulan bahkan insya Allah sampai akhir hayat nanti bersamanya jika aku tidak bisa menerima segala kisah hidupnya ia, lalu pondasi pernikahan ini akan berakar kepada apa?
Lalu giliranku untuk bercerita bagaimana diriku, keluargaku dan sekelumit jatuh bangun ekonomi keluargaku. Aku bercerita, bahwa aku bukan dari keluarga yang kaya raya, ketika meminta sesuatu bahkan aku harus menahannya dengan sangat, karena papah sempat berwiraswasta dan ketika memutuskan pilihannya, yaitu jatuh pada enterpreneur, kekejaman itu sangat mengintai.
Dan setelah sedari sekiannya aku cukup mengobrol dan aku sangat baper saat itu karena back song nya lagu waktu itu payung teduh. Waini! Setelah cukup mengobrol, aku sempat melirik jam handphone ku dan menunjukkan pukul 4 sore dan aku menoleh ke belakang, mamahku sudah berada di teras luar cafe dan aku bertanya sama abang,
“mas, kita sholat ashar nya sekarng aja?”
Lalu abang jawab, “Nanti aja mba, soalnya pada belum selsai juga sih.”
Oh,baik. Aku disitu ingin meralat gausah sebut aku dengan “mba” juga sih, dan ternyata dia gamau di panggil mas haha.
Trus kita masih aja itu lanjut ngobrol, ga beres-beres sampai mamah aku nyamperin gitu kan ke aku,
“Kak, ayo sholat dulu sana, ini udah jam 4 lebih.”
Bhaiq.
Maksud aku tuh, aku juga ngerti ya itu jam 4, tapi aku kira mereka masih sholat gitu kan dan ga ada aba-aba kalau udahan. Dan gitu itu, aku bilang ke abang,
“Kamu ngerasa gak sih kalo ini dari tadi kita nunggu kejelasan buat kapan gantian sholat?”
Lalu dia jawab, “Ya iya, aku pun mikirnya sama, yaudah kita langsung sholat aja yuk.”
Dan kita berdua melipirlah ke mushola deket Cafe dan lumayan gak terlalu jauh.
Setelah selesai sholat aku masih canggung-canggung gimana dan tiba-tiba abang nyeletuk,
“Kamu pakai apa merah-merah di mata?”
Wah itu sih rasanya muka aku panas dan merah kali yes, sekalinya di komen soal dandanan. Aku jawab aja,
“Ehem, ya kan kalo cewe tuh well prepared gitu, biar look nya enak diliat ya, gimana pun kalo mau ketemu sama orang setidaknya memberi penampilan yang terbaik.” gumamku.
Abang cuma bisa manggut-manggut sama senyum kali ya.
Setelah selesai sholat, dan hari sudah sore juga, closing untuk pertemuan kita dengan ditanya sama pak Patmo, setelah ini akan di kabari dari pihak mba Grandys seperti apa keputusannya apakah ta’aruf dilanjutkan dan sedikit nasihat juga.

You May Also Like

20 komentar

  1. Ooh Cikabiraya menghasilkan mbak dan mas ini

    BalasHapus
  2. Cikabiraya sebagai benang merah untuk pertemuan kita mas, hehe. Azkhro sudah membacaπŸ˜„

    BalasHapus
  3. Long last sampe kakek nenek yah tth πŸ€—πŸ˜˜

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah teh hhi. Emang jodoh tuh gak ketebak ya. Aku pacaran 8 tahun kandas. Jsdinya nikah sm yang baru kenal 7 bulan aja. Haha *curcol

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi iyaaa tehnis, terkadang emang jodoh tuh gapernah ada dibayangan kita yaaah

      Hapus
  5. aish cuit cuit jadi pengen nulis juga tentang ini nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi akika jadi malu :p , d tunggu postingannya ya tehRa!

      Hapus
  6. Cerita jodoh tiap orang itu emang adaaa aja "mysterinya" hihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha misteri banget teh, tapi emang bener gitu sih teh

      Hapus
  7. Bener ya teh, Allah itu sebaik-baiknya perencana.. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaaa mom, jadi lebih makin yakin aja kalo udah dikasih yang terbaik

      Hapus
  8. Smoga jodoh dunia akhirat ya teh😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Allah teh feee, makasih ya sudah membaca hehe :)

      Hapus
  9. unik sekali kisah pertemuannya, semoga jadi pasangan dan keluarga yang bahagia selalu ya tteh

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin ya Allah, makasih ya teh udah mau menyimak kisah kita *eaa

      Hapus
  10. Aku pengen nih suatu hari bikin tulisan beginian. Hahaha

    Semoga samawa ya, bahagia selalu πŸ™

    BalasHapus
    Balasan
    1. yes, teh nes insya Allah hari itu akan tiba :) d tunggu tulisannya :)

      Hapus

Instagram