Curhat 2 Tahun Pernikahan, Gimana Ya Rasanya!


cerita anniversary pernikahan

Oke kali ini aku mau bebas dan suka-suka buat nulis tentang hari Anniv pernikahan aku yang kedua tahun sama suami. Di masa pandemi pula, semua harapan dan juga banyak rencana di tahun ini banyak yang harus dikuburkan dalam-dalam dan ada pula kejadian-kejadian yang tak terduga sebelumnya.

Jadi aku berangkat dari apa-apa yang terus bisa aku syukuri sampai sejauh ini. Bersama, menua bersama dan tinggal bersama suami, beneran terwujudkan di tahun ini. Namun ya kita masih belum di rumah sendiri, tapi itu masih gapapa dan semuanya semoga berjalan baik-baik saja, sampai kita sendiri yang akan merasa itu sudah cukup baik untuk kita terima.

Semakin Mengenal Diri Sendiri

Intinya di 2 tahun pernikahan aku dan suami kali ini tuh, kayak semacam mix feeling banget sih. Dari segi akunya, yang selalu ingin mengekspresikan diri. Ada disaat-saat yang begitu sangat bosan, dan pernah overwhelming dengan keadaan, terutama dari sisi ekonomi ya. Jujur ada satu fase terberat bagi aku buat mengiyakan bahwa kita akan baik-baik saja, padahal tau kalo itu tidak akan jadi baik-baik saja.

Aku sadar banget kalo aku tidak bisa selalu memaksakan kehendak yang aku mau ke suami aku sendiri. Notabenne nya dia udah suami aku, tapi ada hal-hal yang begitu sulit, kalo aku mau A tapi kok dia gabisa nurut ya buat jadi A, malah terkadang jadi Z bahkan zonk. Trus aku lihat lagi, kok cara aku masih gitu-gitu aja ya, pantas aja dia gamau. So, kadang sesuatu yang terlalu keras, mungkin cocok buat diri sendiri tapi tidak begitu cocok ketika harus diterapkan ke orang lain.

Belajar memeluk kembali, ketika ada tangis dan juga emosi

Berbeda kepala, berbeda tubuh, berbeda latar belakang keluarga, itu tuh ngaruh banget. Dan akhir-akhir ini lini masa media sosial tuh luar biasa hype nya soal relationship. Sampai ada di fase aku tuh agak percaya ga percaya, setuju aja menikah dengan orang asing, yang bukan ada di circle aku sebelumnya, tapi aku merasa ini ya jodoh gw gitu. 

Ada rasa takut kalo apa yang gw impikan untuk hidup ini tidak dapat terealisasikan waktu nanti habis married. Gw masih sebocah itu sih mikirnya, padahal ketika menikah, dijalanin, konflik pasti akan selalu ada dan sampai usia 2 tahun pernikahan ini pula, bersuaha meredam konflik dengan terus gayeng lagi, habis bete-betean, itu yang jadi PR besar.

Sesungguhnya membangun pernikahan itu mencampur adukkan masalah

cerita anniversary pernikahan

Belum lagi, ada pihak-pihak luar yang seolah-olah turut campur atas apa yang terjadi di kehidupan keluarga kecil kami. Jujur dari sisi kenapa belum juga hamil-hamil ini jadi pemicu aku terus kepikiran dan jadi malah stress sendiri. Tau kan lagi pandemi ini tuh segala hal menjadi salah satu faktor ujian, kok masih ada gitu ya yang nanya-nanya bahkan sempat-sempatnya menganalisa. Aku beneran udah sepasrah itu, sampai-sampai di titik, mamah aku yang tadinya menutupi rasa keinginan untuk menimang cucu, sekarang ini mulai terang-terangan.

Meminta kepada aku dan suami untuk menjalankan pola hidup sehat dan hindari stress, mungkin aja ya aku stress, tapi ga aku sadari. Dan ada hal-hal dalam tetek bebek urusan rumah tangga aku itu kok kayaknya terlalu didikte oleh beberapa orang. Gini ya, kadang tuh dalam hati ingin speak it loader, persoalan tetek bengek itu. Pasalnya, yang ngerti kan kami berdua, apa adanya keluarga kami, dan kita juga rumah tangga baru. Jika ingin memberikan nasehat tapi tolonglah tidak intimidatif, karena kami juga masih belum se-oke itu.

Kami sadar, kami masih banyak kekurangan dan ada ekspetasi-ekspetasi yang rasanya ingin aku raih, tapi Allah masih bilang belum, ya itu kadang kurang disadari oleh orang-orang tersebut. Dan makin kesini, aku tuh makin berusaha santai banget jalanin pernikahan yang rasanya kayak nano-nano aja gitu. Ada rasa ga percaya, kayak udah "wah serius udah 2 tahun aja barengan, bersama jadi teman tidur dan kadang jadi teman berantem"

Egosentris tidak selalu dari matangnya usia

cerita anniversary pernikahan

Walaupun kami berbeda satu tahun tapi ada kalanya egoisnya kita itu sama-sama, jadi kadang aku tuh mikir, gimana yang beneran usia 20-an trus nikah ya, aku yang usia 24 menikah aja itu tuh ngerasa kayak "kecepetan" gitu lho. 

Lucunya, kita itu lebih efektif buat ngobrolin hal-hal berbau analisa, mimpi dan juga harapan soal rumah tangga itu kalo keluar rumah. Justru kalo di rumah itu, bawaannya jangan ngomongin hal yang berat-berat, pernah dicoba, tapi spaneng dan bawaannya akan ga baik, ya baper lah, berantem tipis-tipis lah, saling sahut-sahutan.

Belajar menemukan titik bisa deep talk itu tidak di rumah

Baru aja aku ngajuin pertanyaan, kenapa butuh 2 tahun pasca aku melepaskan pekerjaan di ranah produksi, dan ada sedikit penawaran buat karier aku kedepannya, karena ga memungkiri bahwa untuk saat ini kami berdua, khususnya aku gabisa hanya mengandalkan satu kran financial aja dari suami. Walaupun suami di pemerintahan dan masih belum PNS, ada rasa was-was gitu aja sih.

Dan ada semacam pertanyaan, kenapa ga dari awal-awal kayak gini ya, trus kayak bilang ke diri aku kalo ya ini tuh sebuah proses, yang mana setiap orang ga sama. Aku merasa terlambat, sedangkan pas diceritain ke suami, dia kayak jadi merasa tersinggung gitu, padahal bukan maksud melarang aku kerja ya. Hanya saja memperoleh pekerjaan tidak dengan background teknik itu cukup sulit dan aku harus membangun ini dari bawah banget, dari nol dan semua itu dari dunia digital, blogging and creator di sosial media.

Sekali lagi, rasa kepercayaan dan membangun komunikasi itu hal yang krusial

cerita anniversary pernikahan

Baru-baru saja kami merasakan di dewasakan kembali oleh keadaan. Kami tidak menyangkal bahwa ada rasa terpendam dari masing-masing diri kami ini yang tidak bisa diceritakan oleh satu sama lainnya tapi kita sama-sama tau. Akhirnya mencoba untuk menyamakan lagi apa yang aku pikirkan dan yang suami pikirkan.

Aku memang tidak selalu berharap keluarga kita itu tanpa ada rasa konflik, karena dengan hadirnya konflik itu sesungguhnya kita semua sedang di dewasakan. Aku juga semakin belajar untuk menghargai dan menyayangi diri sendiri, tidak terlalu berekspetasi berlebihan dan alhamdulillah aku berada pada circle para teman-teman blogger yang saling memberikan inspirasi lewat beragam tulisan.

Tidak sebatas cuan, tapi memang saling memotivasi ketika ada rasa yang hilang, tertelan oleh gempuran rutinitas yang tiada habisnya. Kuncinya memang ada di rasa kepercayaan, bahwa suami yang telah Allah kirim kepada kita, adalah pasangan yang harus kita jaga dan sayangi seumur hidup kita. Juga dengan komunikasi itu sendiri. Baik komunikasi itu sendiri dampaknya begitu besar ketika kita sama-sama mau saling mengerti, tidak hanya satu pihak aja yang merasa sangat berkorban sedangkan pihak satunya merasa terabaikan.

Bahwa kita masing-masing pasangan, akan selalu merasa saling membutuhkan, terlepas seberapa mandirinya kita. Juga faktor luar seperti kehadiran orang lain yang berseliweran dalam hidup kita dan mau gamau mempengaruhi seberapa besar kita meresponsnya, itu juga menjadi sebuah pembelajaran yang berharga.

Aku sebagai istri, ada kalanya merasa begitu kuat, mandiri dan tidak ingin dianggap remeh, bahkan oleh orang terdekat sekalipun

cerita anniversary pernikahan

Hmm terdengar agak sedikit feminis tapi beneran lho, kadang aku ingin semua itu aku lakukan sendiri, tanpa merepotkan suami. Adakalanya ingin dianggap bahwa aku ini istri yang mandiri, bisa melakukan segalanya perihal tetek bengeknya rumah tangga secara sendiri.

Nah, kadang kala yang bikin keki itu adalah orang-orang terdekat dan secara tak langsung menganggap bahwa aku ini minim banget usahanya, seperti tidak ada greget gitu. Entah ya, ini cuma perasaan aku yang seringnya sensitif, tapi aku merasa kayak gitu. Kayak ga percaya aja apa yang sedang aku bangun ini ya nanti ada tujuannya. Secara keliatannya tuh kayak bilang, kamu ngapain sih. Trus apa harus aku koar-koarkan apa yang selama ini aku usahakan, kan ga selalu seperti itu, adakalanya ya ingin aku keep sendiri hingga waktu yang tepat bisa aku share hal tersebut.

Gitu lho, dan ya sejauh yang aku rasakan untuk hidup ini, aku selalu mengusahakan segala sesuatunya itu lancar, bagus dan terbaik. Jika ada kritik saran, aku sangat terima dengan suka cita, namun ketika udah masuk ke dalam ranah "mendikte" rasanya aku cukup berat hati ya untuk menerimanya. Semoga di dua tahun ini kita sama-sama bisa belajar untuk membangun bahtera rumah tangga di masa depan dengan lebih bijak dan semakin romantis.

Aku selalu ingat perkataan bahwa  dalam pernikahan itu ya semuanya akan menjadi membaur, permasalahan, rasa suka cita dan juga cobaan, maka bersiaplah untuk itu semua. Bukan butuh kepintaran yang paling utama, namun kebijaksanaan dan penuh daya juang yang tinggi. Selamat usia pernikahan 2 tahun ya sayangku...

2 komentar