Demam? Jangan Dianggap Sepele! Karena ini Pengalaman Paling "BAPER" Soal Demam Berdarah Dengue

by - Februari 14, 2019

Hai hai sobat healthies dimanapun berada. Gimana kabarnya pagi ini? Semoga sehat dan bugar selalu ya. Karena hari ini tuh kita harus pinter-pinter banget jaga daya tahan tubuh sebelum berbagai penyakit bersarang di tubuh tercinta kita. Apalgi orang-orang tersayang terjangkit salah satu penyakit, bahkan aku masih inget banget saat aku demam dulu, mamahku udah yang paling heboh nan rempong. Soalnya demam itu jangan pernah dianggap sepele, plis ya sekali lagi, jangan sampai dianggap sepele. Menjaga kesehatan begitu pentingnya kayak menjaga cinta diantara kita, eaaaaa.

(I'm healthies!)


Kenapa sih penting? Karena demam adalah tanda-tanda dari sinyal tubuh kita, yang mana salah satu organ tubuh lagi kena serangan baik bakteri maupun virus. Nah, para temen-temen millenial ada ga yang pernah ngalamin demam? Pernah kan, apalagi kalo kita flashback sama kegiatan kita yang super sibuk dan padat ditambah istirahat serta asupan makanan yang tidak begitu ter handle dengan baik. Tapi, kalo demamnya itu beserta badan super pegel dan kerasa banget sakitnya, udah pernah? Kalo aku udah pernah nih kayak gini. 

Ceritanya waktu itu aku masih bekerja di Bandung (Bandung Barat sih), dan aku tinggal di kos-kosan yang lingkungannya padat penduduk gitu. Beberapa waktu sebelumnya, memang mba-mba kosan aku ada tuh yang kena DBD gengs! dan ada beberapa rumah juga yang udah terdampak gitu, tapi karena sibuknya kerja, aku juga sering pulang ke rumah mamah di Karawang. Dan itu ga berasa kalo aku demam saat balik ke Bandung adalah kena DBD ini. Demam aku itu selama 4 hari dan gejalanya adalah BAB aku yang berdarah gitu kan sama saat gosok gigi, gusi aku berdarah. Padahal ga pernah aku ngalamin gusi berdarah kayak gitu. 

Di hari ke 4 itu juga, demam aku naik turun. Kalo siang kayak orang yang sembuh, tapi kalo pas malem aku super gabisa tidur. Udah gitu pas demam awal sama diare itu aku berobat ke bidan dan di kasih resep soal diare, dan seninnya aku baru berobat ke dokter umum dan ada dua kemungkinan. Antara typus dan DBD itu karena beda tipis shayyy. Salahnya aku waktu itu, memeriksakan darah di hari ke 3, hari selasa. Dan ga keliatan gitu, tapi mamah udah was-was karena bingung gitu lho, akhirnya aku di bawa ke rumah sakit Cahaya Kawaluyan, Kota Baru Parahyangan. Disitu untuk periksa darah sekalian biar tau dan itu pas banget di hari ke 4. Benar aja, trombosit aku turun dan langsung saat itu juga harus rawat inap. Dan for your information, aku sempat kesusahan buat proses pemasangan infus, karena hampir dehidrasi. Setelah rawat inap selama 3 hari, aku sembuh ditandai dengan trombositku naik! Btw, dari DBD ini berat badan aku sampai 45-an kg lho! Kurus boooo.

(Kantorkuu COworking, cozy tempatnya)
Alhamdulillah walaupun kota Tangerang belum dalam KLB (Kejadian Luar Biasa), tapi aku sangat bersyukur bisa diundang oleh kemenkes dalam pengendalian DBD ini dan juga ada pemberian insight yang super menarik dari dr. Gia Pratama (dokselebtweet) yang membahas tentang anak milenial yang meremehkan kesehatan karena ada 2 hal dengan dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid-Dir P2PTVZ dari Kemenkes dalam langkah pengendalian DBD. 


(super cute pantry kopi nya)

Ternyata ga lebih dari itu aja, di ruang Kantorkuu coworking space yang super menarik karena comfy banget tempatnya dan kopi nya enak banget (psst, aku pakai sirup hazelnut hehe) makin menambah kenikmatan dalam menyerap ilmu dair orang-orang hebat yang berkesempatan hadir disini. Serta ada kejutanny lho yang ga disangka-sangka. Apa cobaaa, kita kedatangan ibu Menteri Kesehatan, Ibu Nila F Moeloek, seneng banget aku tuh.

Bapernya aku sampai sekarang, karena aku inget banget DBD ini bikin aku ngeri banget karena menyebabkan kematian. Kalo inget dan ternyata DBD pertama kali di temukan di Indonesia itu di Surabaya dan Jakarta pada tahun 1968. Penyebabnya ternyata bukan dari nyamuk lho. Hayooo, jangan salahkan nyamuk ya, tetapi virus dengue itu sendiri dan nyamuk Aides Agepty ini adalah vektor (pembawa virus dengue) itu sendiri. Ketika mencoba breakdown, DBD itu terdiri dari demam yang terinfeksi virus dengue sedangkan berdarah itu bocornya plasma yang menyebabkan kepekatan sehingga di akhir terdampak, akan timbul bintik-bintik merah di sekujur tubuh. Kalo aku, saat keluar dari rumah sakit bagian kaki banyak bangetttt bintik-bintik merahnya itu.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Kemenkes ini, pada bulan Januari 2019 terdata kurang lebih 13.683 penderita DBD di 34 provinsi serta 132 dilaporkan meninggal. Hal ini yang menambah tingkat bapernya adalah adanya angka kenaikan dari tahun 2018 yaitu sebesar 2.22% angka penderita DBD. 

(Meet Up Helathies-MC- Ibu Siti-dr. Gia)
Memasuki pemaparan dari dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid-Dir P2PTVZ tentang latar belakang soal DBD ini tentang nyamuknya dulu nih. Kalo nyamuk tadi udah disinggung di awal tadi kan, dia yang menjadi agent serta vektor virus dengue ini ternyata ada streotype nya gitu, yaitu D1 D2 D3 dan D4. Warna dari nyamuk ini adalah belang-belang hitam putih, nyamuk ini akan meletakkan telurnya yang sangat lengket di bidang vertikal dan hanya beberapa cm dari ketinggian air, seperti drum, bak mandi. Saat hidup, telur ini akan bertahan hingga 6 bulan walaupun dengan kondisi tanpa air. Dan paling menariknya, nyamuk Ae. Agepty ini punya jam kantornya yaitu saat kita beraktivitas pada pagi hari hingga sore hari. Wah, ini yang harus diperhatikan buat para momies untuk concern sama anak-anaknya, kan karena anak-anak ini suka ga berasa dan keliahatannya lemas dan mulai mual atau eneg-eneg gitu, udah deh cuss tanyakan demamnya mulai kapan kalo udah lebih dari 4 hari, langsung periksain darahnya ya.

Nyamuk ini bisa terbang di ketinggian 100 meter lho, jadi buat yang merasa aman-aman aja kalo tinggal di apartemen atau tidur di kamar lantai 2, be aware yah. Dan ibu Siti menjelaskan tentang peran kita untuk melakukan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) yaitu dengan sebutan TRIMEN (3MEN) plus. Apa aja itu?

  1. Menguras bak mandi secara rutin. Makanya sekarang lebih prefer pemasangan shower sebagai pancuran air mandi. Selain meminimalisir tempat bertelurnya nyamuk, bisa jadi irit debit air juga lho
  2. Menutup tempat penampungan air. Nah, ini jadi perhatian khusus ya, karena jentik-jentik ini habitatnya di genangan air bersih. 
  3.  Mendaur ulang kembali barang bekas. Inilah plus nya, kalo sebelumnya kita sangat familiar banget sama mengubur barang bekas yang kurang ramah terhadap lingkungan.

Selain 3Men plus itu, kita juga dihimbau untuk tidak menggantung banyak pakaian kotor, karena berpotensi menjadi sarang nyamuk-nyamuk dewasa bersembunyi. Dan saat tidur, kita bisa memasang selambu di tempat tidur kita. Wah, ini langkah kecil yang bisa menjadi perubahan dalam lingkungan kita juga dalam mencegah wabah dari DBD ini. Kalo teman-teman menyukai berkebun, bisa jadi solutif nih untuk menanam lavender dan serai dalam salah satu contoh tanaman pengusir nyamuk. Jika terdampak sudah ada di ranah KLB, maka fogging adalah salah satu solusinya. Karena fogging mengarah pada nyamuk-nyamuk dewasa dan harus atas persetujuan Dinas Kesehatan Setempat. Yang terakhir ini adalah movement paling krusial, yaitu "Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik" yang mulai kembali di sosialisasikan kepada masyarakat hingga tersampaikan kepada keluarga dan juga institusi.

(Senangnya ibu Nila sangat ramah untuk selfie)


Kedatangan ibu Nila F Moeloek menambah wawasan pengetahuan soal kesehatan dan juga himbauan beliau kepada teman-teman millenial harus bersama-sama bersinergi menciptakan penemuan ataupun riset tentang penggunaan tanaman herbal. Lalu tak lupa mengapresiasi penuh kepada blogger sebagai stake holder dalam menyebarkan informasi maupun konten yang positif dan bermanfaat tentang kegunaan tanaman herbal tadi di ranah publik.

(hihi finally bisa bikin video sama dr. Gia dan banyak insight disana)


Sesi dr. Gia Pratama, yang biasanya aku lihat cuitannya di twitter sungguh berfaedah ini. Selain karena beliau menyelesaikan buku Berhenti di Kamu dengan berawal dari thread ia bertemu mba Fira, istrinya, dr. Gia sering banget ngasih thread-thread seru seputar kesehatan dan pengalaman selama ia menjadi dokter. Keren lah pokoknya, ditambah hari ini memberi banyak masukan tentang pentingnya menjaga kesehatan bagi kaum millenial yang suka luput karena 2 hal, yaitu sikap meremehkan dan sikap ketakutan karena satu alasan yaitu KETIDAKTAHUAN.

Dalam presentasinya dr. Gia menjelaskan tentang peran regenerasi sel dengan contoh pergelaran akbar Asian Games saat jaman pemerintahan bapak Soekarno dengan bapak Jokowi yang masih sama di Indonesia namun perbedaannya adalah kehadiran orang-orang di jaman bapak Soekarno hanya sebagian kecil saja yang masih ada di jaman bapak Jokowi ini. Artinya, ada 3 juta sel yang teregenerasi setiap harinya. Dan ini jangan takut ya gaes, karena tubuh kita terdiri dari kurang lebih 70 triliun sel dan sel itu ada kontrak biologis di DNA, isinya adalah JOBDESCK nya dia, umurnya dia. Maka ketika salah satu sel melanggar kontraknya, maka itulah yang disebut dengan kanker. Ya Allah serem banget :(

Jadi makin ngerti banget sama penjelasan dari dr. Gia soal menjaga kesehatan dengan runut dari pengenalan sel hingga mengkampanyekan untuk selalu melakukan aktivitas fisik. Karena jujur aja kalo olahraga itu agak berat shaaaay, tapi kalo aktivitas fisik lebih bisa dilakukan sambil melakukan aktivitas harian seperti naik turun tangga daripada lift. Dan dr.Gia memberikan nasihat nih, buat kita ketika duduk selama 20 menit maka berdiri lalu berjalan sepanjang jarak 200 meter atau 20 detik saja, jangan kebanyak duduk ya.

Dan sesi terakhir adalah pemaparan dari Balai Besar Teknis Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit, Jakarta dan yang hadiri disini adalah UPT (Unit Pelaksana Teknis) Kemenkes yang akan melakukan tutorial pembuatan LAVITRAP. Wah apa itu?

Jadi lavitrap ini adalha perangkap larva hingga menekan jumlah atau populasi nyamuk dewasa yang menjadi vektor virus dengue, dengan memanfaatkan limbah botol plastik. Cara pembuatannya sebagai berikut:

1. Sediakan botol sisa air mineral 1 L

2. Lalu gunting bagian atas, tengah dan juga bagian dasar (untuk tempat menguras)


(Menyambung dengan lakban dan memberi kain tile)

3. Menyambung bagian atas (yang ada tutup botolnya) dengan lakban

4. Tempelkan kain tile pada bagian bawah

5. Steples bagian yang masih terbuka dengan sisa bagian tengah tadi lalu bungkus dengan sisa kantong kresek dan LAVITRAP siap digunakan sebagai perangkap larva. 

(Menunjukkan bagian bawah yaitu sebagai penguras air lavitrap)


Yang perlu diperhatikan adalah membuang atau menguras air dalam lavitrap ini di bawah sinar matahari agar larva langsung musnah.


(Salam Healthies!)

Demikian sharing ilmu pengetahuan soal DBD ini yang aku share bener-bener panjang kali lebar, karena ingin mengajak bersama agar tidak baper kayak waktu aku dulu, sampe turun berat badan dan kalo kebablasan bisa kematian yang menjadi issue nya. Selamat mencoba lavitrap tadi ya sebagai langkah sederhananya adalah tidak lupa menjadikan dalam 1 rumah itu ada juru pemantik (pemantau jentik). Salam healthies!












You May Also Like

6 komentar

  1. Kalau demam sekarang tuh mesti hati-hati, karena awal aku dulu kena DBD mah gejalanya gak kayak DBD malahan. Taunya pas tes darah malah positif DBD.

    BalasHapus
  2. Wahh acaranya bagus bgt yah banyak ilmu yg didapet

    BalasHapus
  3. Wah makasih banget infonya...lengkap dan jelas banget... Jadi semakin tau ttg DB.. dlu aku juga pernah ngalamin panas tinggi hingga muncul ruam2 merah, ku kira DB, tapi pas tes darah ternyata typus...

    BalasHapus
  4. Say kamu ga demam deket-deket dokter nya...kalo aku Sih demam hehe.. makasih info nyajadi harus lebih aware lagi sama kesehatan

    BalasHapus
  5. Sharingnya bermanfaat banget kak.. Aku pernah dulu katanya sih gejala DBD tapi samoe mimisan dan mungkin sankin panasnya aku ngeliat semuanya kayak TV semutan.. Jadi aku agak trauma liat yang bolong-bolong kayak sarang tawon gituu... huhu

    BalasHapus
  6. Anakku baru banget sembuh dari DBD. Aku mau cobain teknik yg botol aqua 1Ltr itu di rumah ahh.

    Makasih informasinya ya, mbak ��

    BalasHapus