Punya Waktu 5 Jam di Jakarta, Kunjungi 4 Lokasi ini

by - September 26, 2019

(Happy tour 5 jam di Jakarta. Doc: Koleksi Pribadi)

"Dys, katanya wisata Jakarta itu-itu aja ya?"

Me: "Ha? Itu-itu gimana maksudnya nih? karena kita belum tau aja ada hal tersembunyi apa di Jakarta, makanya yuk kita explore jalan-jaan kalo cuma punya waktu 5 jam doang di Jakarta"

"Eh seriusan? Mau dong, itu dimana aja sih dys?"

Baik...simak dan scroll sampai bawah ya sisteurrr.

Menjelajahi sekitaran Kota Tua jika punya waktu 5 jam di Jakarta


Bukan termasuk dalam kunjungan wish list untuk yang punya waktu 5 jam di Jakarta, namun meet point kita dan mengakhiri perjalanan di sebuah lokasi pembuatan jamu di kota tua ini untuk selanjutnya kita akan menuju ke Pelabuhan Sunda Kelapa yang ternyata membuat aku amaze sendiri.

Maklum, waktu aku pertama kunjungan ke Kota Tua itu hanya sekitaran Museum Fatahillah aja dan itu sekitaran 2016-an yang aku masih belum pindah domisili ke Tangerang, jadi kalo sekarang diberi kesempatan untuk trip bareng bersama komunitas ISB rasanya seneng banget. Karena pas tau, mau menjelajah kemana aja, aku membatin gitu lho, 

"Eh seriusan ada museum Bahari dan menara Syahbandar? Ndeso nya aku ini....". Karena yang aku tau itu cuma sekitaran Kota Tua aja lho untuk kalo punya waktu 5 jam di Jakarta, dan ternyata bisa berkembang dan bervalue lebih karena aku bisa ikut trip bareng komunitas ISB ini. Tengkyu!

So, apa aja 4 lokasi yang bisa teman-teman punya waktu 5 jam di Jakarta?

1. Pelabuhan Sunda Kelapa

(Saat di Pelabuhan Sunda Kelapa. Dokpri)

Sempat tersasar karena bingung dengan pintu masuk, kita di antar oleh angkutan online sampai dalam Pelabuhan dan mendengarkan mba Ira Lathief yang merupakan blogger, kompasianer dna juga pemandu wisata yang mempunyai komunitas @wisatakreatifjakarta tentang Pelabuhan Sunda Kelapa ini. Tak lupa aku memakai masker dari Nexcare yang khusus untuk berhijab karena polusi dan debu di area pelabuhan ini cukup tinggi juga, jadi kegiatan eksplorasi pun menjadi aman dan nyaman.

Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan pelabuhan tersibuk se-Asia Tenggara di jaman kolonial Belanda. Kok bisa menjadi yang tersibuk? karena pada jaman VOC, kota Batavia ini dijadikan kantor pusatnya VOC untuk kawasan Asia Pasific.

Pada tahun 1600 an itu VOC merupakan perusahaan terbesar dan oleh sbeba itulah pelabuhan Sunda Kelapa ini menjadi yang tersibuk pada jaman tersebut. Saat ini Pelabuhan Sunda Kelapa masih aktif beroperasi, dengan terlihat beberapa kapal Phinisi yang bersandar dengan rapih karena perlu skill khusus lho agar antar kapal tidak berbenturan dan bersandar secara teratur seperti itu.

Uniknya, Pelabuhan Sunda Kelapa ini tidak seramai dulu karena saat ini tidak diperlukan banyak SDM untuk mengangkut barang-barang ke atas kapal, namun dengan bantuan alat dan tetap menjadi istimewa karena pada pelantikan pertama di tahun 2014, presiden Jokowi melakukan pidato di atas kapal Phinisi Hati Buana. Dan tak lupa, bagi para fotografer dan pencinta fotografi garis human intererst, mereka sangat menyukai spot di Pelabuhan Sunda Kelapa ini karena suguhan Sun Set di kala matahari mulai tenggelam, adalah saat terbaik untuk capturing moment.

2. Menara Syahbandar

(Me at Menara Syahbandar. Dokpri)

Tak jauh dair Pelabuhan Sunda Kelapa, kita hanya perlu jalan menuju pintu keluar dan menuju jalanan trotoar, gajauh dari situ kita sudah tiba di area Menara Syahbandar dan juga Museum Bahari. 

Pertama kita masuk ke Menara Syahbandar, yang merupakan Menara Mercusuar pada masa-masa Pelabuhan Sunda Kelapa di jaman VOC ini sangat sibuk dan aktif dan lingkungan sekitar dari Menara Syahbandar ini masih berupa pantai, dan belum mengalami reklamasi seperti saat ini. 

Pada tahun 1600, Menara Syahbandar menjadi titik nol di kota Batavia yang bisa kita lihat sebuah bukti momentum ukiran yang tertulis dengan huruf kanji di lantai ke-5 ini. Saat sampai di lantai 5 ini, terasa banget  kemiringannya karena memang saat ini Menara Syahbandar terkendal sebagai menara Pizza nya Jakarta.

3. Museum Bahari

(saat di Museum Bahari. Dokpri)

Hari sudah semakin terik, namun langkah kita tak terhentikan untuk bisa sampai di Museum Bahari yang merupakan tempat gudang dari rempah-rempah yang akan di supply ke Eropa sana, yang disimpannya yang dahulunya gudang ini, di Museum Bahari.

(Rempah yang ada di Museum Bahari. Dokpri)

Ternyata, sungguh kaya raya nya hasil rempah-rempah negara tercinta kita, karena berkat rempah-rempah kita ini separuh kekayaan dari VOC itu ya berasal dari hasil penjualan rempah-rempah kita lho. Dan rempah-rempah yang menjadi primadona saat itu adalah Pala, yang nilainya seperti emas pada jaman itu, karena belum ada kulkas, sehingga Pala digunakan sebagai pengawet makanan.

Di Museum Bahari ini, aku lebih mengenal beberapa pahlawan Bahari, salah satunya yang baru saja diangkat menjadi pahlawan nasional adalah Laksamana Hayati yang merupakan laksamana laut perempuan pertama di dunia dan dengan prajuritnya adalah para janda-janda. Amaze banget aku tuh!

4. Membuat jamu di Acaraki

(Pak Jony saat menjelaskan soal sejarah jamu. Dokpri)

Setelah puas mengunjungi Museum Bahari, kita menuju Acaraki yang merupakan Cafe dengan menyediakan beberapa racikan jamu dengan owner pak Jony yang sangat ramah dan kita melepaskan dahaga dengan meneguk satu botol Aqua dan hilang sudah dahaga yang kita rasakan karena panas yang terik ini.

Pak Jony menyampaikan bahwa pada tahun 2014 ini ingin mencoba eksplorasi perkembangan jamu, karena sudah agak bergeser dengan persepsi di masa kini. Saat melihat di kolom pencarian beberapa e-commerce perihal jamu, yang muncul adalah jamu kuat, jamu pembesar, pengecil dll itu menyebabkan persepsi jamu di masyarakat jaman sekarang menjadi seperti itu.

Padahal jamu itu adalah jampi usodo, yang berasal dari bahasa jawa kuno, yang artinya adalah doa kesehatan. Sehingga, jamu mengambil peran dari  body, mind and soul hingga menjadi sebuah satu kesatuan agar jamu tadi memang memberikan efek pada kesembuhan di tubuh. Dan jamu yang sering dibandingkan dengan dunia medis, sama seperti pencak silat dan tinju pada area ring tinju, yang berbeda pertuntukkan dan tidak bisa apple to apple.

(Saat praktik membuat jamu dengan V60. Dokpri)

So, kita diberikan kesempatan untuk meracik jamu beras kencur putih dan aku kebagian untuk meracik jamu yang unroasted melalui saringan dengan kertas V60 dan dengan sebuah alat seperti kompresi dan rasanya yang dihasilkan pun berbeda gengs. Aku merasa yang dilakukan dengan alat kompresi tadi itu lebih beraroma kuat namun rasa tetap plain. Namun tenang aja gengs, aku habis ini pesan Bareskrim yang merupakan salah satu menu dari Acaraki yang akronim dari beras kencur es krim dan ini menjadi sebuah kompilasi yang ciamik dari sajian Bareskrim ini.

(ISB Trip dengan komunitas ISB dan mba Ira. Dokpri)

Rasanya unik dan seger banget, menikmati jamu kekinian lebih harus kita lestarikan selain dari kopi-kopi yang sekarang lagi happening banget ini. Yuk, yuk teman-teman jangan ragu kalo mau mencicipi jamu dengan sajian yang unik selain bareskrim tadi, ada Saranthe dan lain sebagainya. Apa teman-teman ada yang pernah kesana? Share pengalamannya dong di kolom komentar ya!

You May Also Like

9 komentar

  1. Sebenarnya ada banyak tempat menarik di Jakarta yang bisa didatangi, jadi kangen mau main ke Kota Tua lagi~ dulu waktu kecil saya juga suka sekali waktu diajak ke Planetarium sama Keong Mas, kira-kira sekarang masih ada nggak yaaa :D kalau dari list di atas saya paling penasaran sama Sunda Kelapa, karena sering lihat foto-foto yang di-share teman-teman saat main ke sana :D

    BalasHapus
  2. Masih kurang puas yaah kak rasanya, pengennya jalan2 terus hehehe ;)

    BalasHapus
  3. Seharian rasanya gak cukup buat keliling wisata Jakarta ya mbak

    BalasHapus
  4. Sepertinya bener deh mba, aku harus balik lagi buat nyobain Bareskrim! Trus masih mau melipir depan Menara Syahbandar. Ada bangunan yang bikin penasaran. Tulisannya VOC Galangan Kapal. Liat kan?

    BalasHapus
  5. hehehe baru ngeh kalo ada kafe yang isinya full jamu
    biasanya cuma kopi atau teh aja
    apalagi, kita bisa meracik jamunya
    unik

    BalasHapus
  6. Sangat romantis di Pelabuhan Sunda Kelapa itu, coba pas sunset ya :D

    BalasHapus
  7. wihhh...hebatt yahh mba, nisa sevcepat itu dalam one day...hhhe
    seru sekali kalo jalan-jalan dijakarta memang oke, tapi macet gk apa apa lahh

    BalasHapus
  8. 5 jam cukup ya buat jelajahi pelabuhan sama museum

    BalasHapus