Review "Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat"

by - November 12, 2018

The Subtle art of nit giving a f*uck 
Sebuah seni untuk bersikap bodo amat
(Pendekatan yang waras demi menjalani hidup yang baik)
-Mark Manson-
Alhamdulillah aku telah menyelesaikan pra-challenge KIMI dengan mencoba mereview beberapa bacaan, dan bacaan aku jatuh pada buku ini. Karena judulnya unik dan aku udah lama banget ingin membaca buku self development semacam ini. 
Pada awal bulan Oktober aku yang diantar oleh suami untuk membeli buku ini di Gramedia Karawaci, merasa bahwa buku yang aku baca ini akan memberi dampak pada pemahaman dan nilai kehidupan aku dengan lebih realitas tanpa sebuah bayang-bayang penilaian dari lingkungan sekitar.
Dengan aku menulis seperti diatas saja, terlihat mulai muncul benih "bodo amat" yang mulai mekar. Jujur saja, baca buku ini aku merasa terseok-seok, sehingga menuntaskan pada injury time adalah sebuah pilihan yang sudah seharusnya aku beri porsi tanggung jawab didalamnya. Sungguh, tidak ada pembenaran akan sesuatu apapun yang mendekati sempurna, begitu kata Mark pada sebuah bab didalam bukunya ini. Yang ada adalah hanya pembetulan dari kesalahan-kesalahan yang telah diperbuah dari waktu ke waktu tanpa menuju kebenaran yang seutuhnya.
Sebelum menginjak pada bab pertama, kita akan disuguhkan berupa preview tentang akan dibawa kemana alur-alur pikiran kita ketika memutuskan membaca buku ini. Bahwa sedari awal, buku ini telah menuliskan tentang "jangan berusaha". Konyol menurutku, namun ketika selesai membaca semua pargaraf nya dan terceletuklah, memang benar, kita tidak perlu berusaha karena dengan berusaha ada kecenderungan kita menjadi tidak menyederhanakan sebuah kejadian. 
Lalu dari buku ini, bersikap bodo amat yang digaris bawahi adalah bukan tentang menjadi acuh tak acuh namun menjadi masa bodoh berarti nyaman saat menjadi berbeda. Hal ini erat kaitannya dengan ketersediaan kesabaran yang sangat luas ketika kita sangat dianggap tidak ada artinya apa-apa karena sebuah hasil belum menunjukkan apa seharusnya terjadi. Dapat diambil benang merah yang runut bahwa kita dipaksa untuk memilah mana yang penting untuk kehidupan kita dan mana yang sebaliknya.
Semakin membuka halaman-halaman berikutnya smepat membuat saya semakin bingung dengan jalan berpikir penulis yang seolah mengajak berkebalikan namun menghasilkan sebuah output yang positif. Seperti kebahagiaan itu masalah, karena inti dari sebuah penderitaan itulah yang dinamakan sebagai kebahagiaan dan kebahagiaan adalah sesuatu yang bisa diutak-atik dari sebuah penderitaan.
Yang selanjutnya adalah bahwa kita tidak istimewa. Kecenderungan untuk menjadi percaya diri bahwa segalanya menjadi terpaku pada perasaan nyaman karena berhasil mengelabui diri sendiri hingga yakin bahwa mereka sedang menyelesaikan hal-hal besar bahkan ketika mereka tidak melakukannya. 
Dan point terakhir yang sangat mempengaruhi pola pikirku adalah sebuah rasa tanggung jawab dari sebuah pilihan yang terjadi pada hidup kita yang notabene nya tidak menyalahi kita, namun tetap menjadi tanggung jawab diri kita sendiri. Seperti kita kehilangan uang karena kecopetan, sepenuhnya kesalahan bukan terletak pada kita, namun saat itu juga kita harus segera memutuskan pilihan sikap apa yang akan menjadi tanggung jawab kita. 
Bersyukur aku telah menyelesaikan bacaan self development seperti ini, karena jujur aku merasa nyaman dengan bacaan yang selama ini seputar fiksi dan itu menjadikan aku tersadarkan melalui buku ini. Sangat direkomendasikan bagi yang over thinking dengan kehidupannya dan ingin berkembang maju serta yakin dengan realitas yang ada dalam dirinya. Selamat membaca ya dear.

You May Also Like

2 komentar

Instagram