Untuk Apa Menulis Blog?

by - November 19, 2018

Super excited kalo ini hari pertama tantangan menulis selama 30 hari yang diadakan oleh Blogger Perempuan Network.
Alasan aku ikut serta meramaikan acara 30 hari ini adalah untuk menggodok ide-ide agar tidak menjadi ampas nya aja yang hilang entah kemana. Namun bisa terdokumentasi secara ciamik dalam dokumen digital seperti blogger.com ini.
Langsung aja yuk, untuk apa sih nulis blog?
Disini aku akan banyak cerita tentang perihal keperuntukan menulis bagi diri aku sendiri. Yang mana, diharapkan adanya percikan yang tertular pada lingkungan berupa energi positif.
Pernah satu kali aku masih ingat, waktu itu menulis hanya beberapa pargaraf namun efeknya bisa memoriable sampai saat ini. Padahal jika ditilik dengan lebih lanjut, tulisan itu tidak memaknai apapun. Hanya bercerita receh tentang kejadian keseharian anak perkuliahan dan anak kosan belaka.
Seperti, "hari ini aku tuh ga sempat mandi karena harus nugas laporan Termodinamika mana dosennya suka ngadain pre-test mulu".
Dan sayangnya aku lupa dengan password beserta perangkatnya untuk web saat masa kuliah dulu. Kalo diingat geli banget gitu gak sih karena kita jadi ngerti pola pikir waktu itu seperti apa. Oleh sebab itu, aku makin excited dengan keberadaan akses tulisan yang makin lama makin canggih ini.
Selanjutnya adalah disaat waktu dan ruang yang aku rasa semakin menyempit ini, namun ada beberapa batas yang tidak bisa aku tembus dan menulis sebuah bentuk dari jalan keluar ketika kita tidak bisa melakakukan apa-apa. Karena bagiku menulis adalah seperti bagian dari diriku yang bisa aku panggil kapan pun aku mau, kapan pun aku sangat memerlukan sebuah aliran rasa dan kita tidak terlalu muluk-muluk dalam mewujudkan sebuah tulisan. Hanya dengan bermodalkan secarik tissu dan lipstick yang tidak pernah tertinggal dalam tasku ini, aku bisa menorehkan satu quote atau beberapa kalimat singkat. Begitu mudah bagiku untuk sekedar berteman dengan rasa sepi namun dengan sepintas kehadiran menulis bisa meramaikan keadaan yang sunyi senyap itu. Kita tidak pernah bisa memungkiri untuk dihinggapi oleh perasaan sepi dan senyap walaupun, bukan berarti keberadaan orang-orang tersayang kita itu tidak berarti apa-apa. Kata sobat tulus, terkadang kita butuh ruang sendiri. Hehe.
Dan yang paling pamungkas dari kenapa sih harus nulis blog? Adalah efektif dan langsung tidak memakan waktu yang lama untuk merasakan efek dari kita menulis blog. Yaitu perasaan lega dan seneng aja.
Jadi, selama aku mulai mengenal dunia menulis, dan mulai concern didalamnya, aku pun tidak melewati sebuah hal yang dinamakan proses. Proses ini melatih aku untuk bisa bertatapan dengan sebuah bentuk ketidakpastian. Saat kali pertama aku menulis hanya sekedar pemenuhan dari kegiatan menulis diary, berlanjut pada nulis kagalauan masa-masa remaja, haha dan yang mulai aku seriusi adalah proses menjadikan tulisan dalam sebuah buku.
Proses yang aku sebut sebagai perjalanan ini memberi banyak pandangan padaku untuk memilih jalan mana yang bisa aku tempuh saat sekarang dengan tidak mengabaikan cita-citaku. 
Beberapa dari keluarga dan teman dunia medsos mungkin merasakan cipratan keseruan aku untuk bisa menulis blog lagi karena aku hanya ingin mendokumentasikan cerita kehidupan dengan apik agar tidak bercecer begitu saja. Semoga niatan menulis ini semata-mata terus tertuju pada Allah sebagai langkah menghargai diri sendiri, menyadari potensi diri dan menjadikan diri pribadi yang tak luput dari proses belajar selama di dunia 
Lumayan ya, cerita tentang kenapa aku harus ng-blog ini sampai-sampai ada rasa haru yang terus aku rasakan ketika merangkai kata demi kata sehingga menjadi kalimat. Dari aku sang pencoret alfabet yang terus mau belajar.

You May Also Like

3 komentar

  1. Pernah juga ditanyain, 'ngapain sih ngeblog' atau 'dapet apa sih dari ngeblog' hha, buat orang lain mungkin ngga keliatan, tapi buat kita, kebahagiaan yang luar biasa hha

    BalasHapus
  2. setuju banget, nulis di blog seperti mengisi buku harian

    walau ngga semonumental buku hariannya Anne Frank :)

    BalasHapus
  3. Benar banget menulis bisa membuat lega hati. Apalagi sedang kesal. Menulis bisa menjadi terapi.

    BalasHapus