Rumah Instagramable Berasal Dari Pengrajin Lokal

Rumah Instagramable Berasal Dari Pengrajin Lokal
(source: unsplash.com)

Halo sisteur, kembali lagi di blog aku yang saat ini berkesempatan buat ngasih beberapa insight dari persoalan pengrajin dan juga dekorasi interior. Alhamdulillah aku diundang oleh Mendekor sebagai blogger untuk bisa lebih tau kisah dari hasil dekorasi yang dibuat oleh Mendekor itu mempunyai kisah tersendiri lho dari pengrajinnya.

Mimpi Rumah yang Instagramable

Siapa ya ya ga ingin punya rumah atau hunian yang super nyaman, enak dan membuat kita betah berlama-lama karena rumah selain tempat kita beristirahat, harapannya kita bisa melakukan berbagai aktivitas pribadi kita dengan sangat nyaman seperti berolahraga, memasak bahkan bekerja. Oleh sebab itu, aku terkagum-kagum nih sama hasil karya dari beberapa furniture yang berhasil diletakkan di sudut ruangan, mempercantik dan memperindah ruangan tersebut. 

Nyatanya, banyak kisah yang tidak kitahui betapa furniture yang instagramable itu memiliki sepenggal kisah dari pengrajin lokal yang harus kita tau nih sisteur sebagai anak millenial. Karena singkat kata, kehidupan dair pengrajin lokal ini dibilang berada di level yang cukup memprihatinkan karena tidak adanya support yang bisa mengembangkan hasil karya nya sehingga hasil karya nya itu dibeli oleh "yang itu-itu aja".

Kisah Pengrajin Lokal untuk "Mendekor"

Rumah Instagramable Berasal Dari Pengrajin Lokal
(source: beritabojonegoro.com)

Sore itu di Kroma Cafe, kita semua memperhatikan bahasan dari sang owner Mendekor, Brian Karno Jan yang benar-benar membangun Mendekor itu dengan tujuan untuk meningkatkan "kelas" para pengrajin lokal dalam bidang finansial dan kesejahteraan hidupnya. 

Menjamurnya hasil furniture yang lebih instagramable dan dari segi harga itu terjangkau, tidak menyurutkan semangat Brian untuk terus membangun Mendekor yang kini saat ini telah bekerja sama dengan 25 suplier dengan 130 pengrajin yang tersebar di 9 kota di Indonesia. Hebat kan! Karena Brian ingin menyampaikan bahwa kualitas dan adanya rasa seni di dalam hasil karya dari Mendekor ini benar-benar sampai kepada konsumen. 

Disini juga hadir mba Cecilia sebagai suplier Mendekor dan mas Alain Jeremy dari Studio Dapur yang akan benar-benar mengulik kisah dari para pengrajinnya ini, mulai dari kenapa terjun bisnis di dunia furniture ini, bagaimana approach dengan para pengrajin hingga bisa bekerja sama sampai saat ini. 

Motivasi dari pengrajin-pengrajin itu sendiri. Dalam mendekor, bisnis secara general.

1. Passion
Ini yang membuat mereka tidak akan bosan dalam menegerjakannya seumur hidupnya

2. Purpose-nya akan terus membara
Jelas, bahwa mereka akan tau tujuan dari berkecimpung dalam dunia seni kayu itu seperti apa, yang mengedepankan cita dan rasa seni.

2. Profit
Jika berbicara profit, pasti berujung pada pengembangan dari bisnis para pengrajin lokal ini dan memang kebanyakan mengusung visi misi sosial itu sendiri.

Mengulik kisah pengrajin lokal

Basic yang diangkat dari kisah bersama para pengrajin lokal itu sendiri, ada yang menggeluti bidang usaha dari home decor, seperti menghadirkan barang-barang aksesoris dan home decor oleh mba Sesil dan adanya Studio Dapur, di daerah Bandung.

Tak lupa untul Social Enterprises berkolaborasi dengan pengrajin bambu di Tasik pengrajin bambu disana bisa meningkatkan perekonomiannya. Jarang sekali jika mendengar cerita true story dari para pengrajin yang mendapatkan kemapanan secara ekonomi.

Harusnya kita bangga dengan para pengrajin lokal ini, karena di Vietnam yang merupakan saingan terdekat, dapat membuat dengan harga jauh lebih murah. Kita harus percaya diri karena dengan kualitas, design yang unik berkarakter, nilai sosial yang diusung. Punya market tersendiri, yang mereka mendukung produk-produk seperti ini.

Cerita mereka......

Rumah Instagramable Berasal Dari Pengrajin Lokal
(source: pexels.com)

Bercerita bagaimana awalnya mba Sesil bisa terjun pada bisnis ini, yaitu dari family bussiness, usaha om nya di Jogja 15 tahun pada bidang furniture, waktu itu masih kuliah 2010, 2014 kerja 1 tahun di Jakarta. Om masih furniture trus export lalu menurun trend nya, karena masih konvensional, mba Sesil mencoba membangkitkan lagi, coba masukin online. Peminatnya banyak (home decor) dan berkolaborasi dengan Mendekor yang approach ke kita dan mulai berjalan sampai sekarang.

Berbeda halnya namun sama ceritanya dengan mas Alaiyn, selayaknya mahasiswa yang membutuhkan uang untuk masa depan. Lulusan dari Itnenas, dispro ini berdua dengan teman, saat tugas akhirnya harus bikin sebuah produk yangg budaya indonesia banget.  Tertarik dengan design bambu. Sangat ramah lingkungan, tumbuh cepat selama 3 bulan setinggi 6 m.  Sekarang bambu popularitasnya turun, semua tergantikan dengan plastik, silikon, ss. Pengrajin bambu yang sudah rendah, trus kenyataan gini makin terpuruk. Bikin produk, nyari pengrajin, ga ada yang bisa. Sewaktu berkunjung ke Tasik ketemu pengrajin pak Toto yang bekerja dengan karya, dengan hatinya. Bisa mengembangkan usahanya sehingga bisa lebih di kenal lagi usahanya.

Kendala sebagai pengrajin lokal itu ada saja, seperti dalam kendala pengiriman karena misal sampai Jakarta retak, melengkung dsb. Lalu di kejar oleh deadline dan membuat stock, hal ini berimbas pada saling menempelnya produk. Namun, masih tetap semangat dan malah ingin lebih mendalami serta explore apa yang dipunyai dari Sumatra, Kalimantan, Papua dari segi pengrajinnya ini. Semoga terus berkembang para pengrajin lokal Indonesia.

1 komentar

  1. wah patut diapresiasi dan dikasih jalan agar kendala yang mereka hadapi bisa teratasi ya

    BalasHapus