Setiap Hari Bersama Ayah adalah Kenangan Masa Kecil

by - Desember 18, 2018

Hai hai, kita kembali lagi pada segment yang sentimentil dan aku selalu gercep untuk menuliskannya. Apakah ini pertanda curhat colongan ya? Hehe bisa saja, menurutku curhat oke oke saja asal ditempatkan di wadah yang tepat dan bisa kita ambil hikmahnya, terlebih jika saat kita telah mempublikasikannya.

Nah kenapa judulnya bikin termehek-mehek? Karena sesungguhnya segala hal tentang Ayah bikin aku selalu baper. Dan untuk kenangan masa kecil yang bisa aku kenang hingga sekarang adalah masa kecil yang aku habiskan di Ternate. Waktu itu umurku masih di Taman Kanak-Kanak sedangkan adikku masih todler, bayangkan saja gimana aktifnya kita berdua. Hingga tiba hari itu, dimana Ayah mengajakku menggali gundukan tanah yang terpendam dan disanalah banyak terpendam harta karun.
Apalagi harta karunnya kalo bukan makanan, permen dan mainan. Waktu itu rasanya berharga banget bisa main pasir bareng sama Ayah dan juga adik. 
 
(Foto nyomot dari Facebook)
 
 
Berikutnya saat waktu sore hari, menghabiskan sisa sore hari dengan naik motor sepanjang jalan yang aku tidak ingat dimana letaknya. Yang jelas saat itu aku masih di Ternate, melihat semburat senja yang indah serta burung-burung terbang menuju tempat peristirahatan. Yang tak kalah menyenangkannya adalah ketika berkunjung ke pantai bersama dengan rekan kantor Ayah dan mamah sewaktu di Ternate, ga akan pernah lupa deh. Karena apa? Aku ditanam di dalam lubang pasir yang dibuat di pinggiran pantai dengan sengaja, lalu sepeti ditimbun setengah badan. Alhasil aku yang saat itu masih belum mengerti, hanya bisa menangis histeris. Aku bisa mengingatnya, ketika aku melihat kumpulan  foto-foto sewaktu kecil dan menemukan satu foto dipantai ini, ada sebersit kenangan yang memanggil dan aku merasakan ada di tempat walaupun samar.
 
Tak hanya pada bagian yang sangat menggembirakan saja, aku dan Ayah selalu bersama di saat tanggungan dalam hidup terasa terhimpit. Waktu itu aku remaja setiap pulang sekolah membantu Ayah dalam usaha telur asin. Aku melihat waktu kurang tidurnya beliau serta harus mengantar pesanan telur asin, belum lagi mengambil ke vendor telur bebek. Aku yang saat itu bertugas sebagai pencuci telur-telur bebek yang sudah ada di tray yang siap untuk di lapisi dengan adonan penghasil rasa asin dari telur bebek ini. Dan juga aku selalu bertugas berbelanja ke grosir terdekat, membeli garam balok dengan dorongan yang untuk air mineral galon. 
 
Ketika saat ini menuliskan perjuangan papah, aku sangat salut pokoknya sama beliau juga aku sangat yakin, papah orang yang sangat baik. Jika sobat blogger bertanya seberapa baper nya aku sama Ayah, bisa cek postingan izin menikah aku disini ya, disana semua kosa kata seolah tumpah ruah untuk papahku tersayang. Semoga papah baca ya tulisan aku ini. Oh iya, adakah kenangan sobat blogger bersama ayah? Yuk share di kolom komentar ya.


You May Also Like

15 komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Kok jadi sedih y mb
    Apalagi kalau baca ini sambil denger lagunu seventeen yg ayah
    Nyesek mb
    Sisi romantis dg ayah emng ketika kita melihat perjuangan beliau bwt kluarga y mb
    Ibaratny kepala jd kaki kaki jd kepala
    Trus ketika ayah ngejaga anak gadisny smpe nikah smpe ad yg jagain yaitu suami
    Tu kan mewekk

    BalasHapus
  3. Aku lebih deket ke Bapak ketimbang ke Ibuk. Tapi, aku paling susah bilang sayang sama Bapak dibanding sama Ibuk.

    BalasHapus
  4. Aku nggak bisa comment mbak, hix, sedih, saat ini Baba (panggilan ayah untuk orang betawi), belum bisa ngasih apa-apa ke baba. Semoga yang telah aku lakukan untuk baba saat ini sedikit banyak bisa membalas segala kebaikan baba...

    BalasHapus
  5. Yang pasti kenangan bersama ayah adalah perjuangan ayah memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Ikutan baper baca ini.

    BalasHapus
  6. Hiks, kalo saya dulu sering main ular tangga sama bapak. Sayang sekali bapak sudah meninggal pas saya nikah.

    BalasHapus
  7. masya Allah, jadi teringat belum bisa kasih apa-apa untuk papa tercinta. momen yang berharga rasanya banyaak sekali

    BalasHapus
  8. kenangan saya bersama ayah waktu kecil sering diajak ke pasar loak, lihat macam-macam barang second. Kalo ada yang menarik baru ditawar dan dibeli. Jadilah di rumah kami ada banyak jam weker dan jam dinding, radio, sepeda mini dan banyak barang-barang lain. Sampai sekarang saya jadi suka berburu majalah, novel dan buku-buku lama. Ayah saya juga yang sudah berjasa menumbuhkan minat baca anak-anak dengan membelikan berbagai buku bacaan walaupun berupa buku-buku lama atau bekas.

    BalasHapus
  9. Kangen Bapak jadinya, Beliau akan selalu di hati ... tak tergantikan

    BalasHapus
  10. Aku sensitif banget klo bahas soal ayah. heheh.. kami saling sayang tp sama2 sulit mengekspresikan sayangnya.

    BalasHapus
  11. terharuuu bacanya. Jadi ingat juga waktu Ayah merintis udaha konveksi dan benih padi. Kami semua ikut membantu walaupun saya sebagai anak yang masih kecil suka ngerecokin bahkan merusakkan alat-alat yang dipakai, namun ayah dan ibu maklum saja. ah jadi kangen...

    BalasHapus
  12. My Dad of course is my first love.
    Sebagai anak sulung perempuan, saya dekat banget dengan beliau. Sayangnya, saya tak bisa lagi menatap wajahnya karena beliau sudah berpulang 11 tahun yg lalu.
    Pastinya ada postingan blog yg saya persembahan untuk beliau juga, spt yg Mbak Grandys lakukan ini.
    Salam hormat buat ayahanda, ya :)

    BalasHapus
  13. bener banget mbak, kenangan bersama ayah juga selalu bikin saya baper, apalagi sebagai anak perempuan yang setelah menikah terpaksa harus berjarak dengan ayah karena harus merantau ikut suami,

    baca postingan ini jadi ikutan baper, kangen ayah di papua :')

    BalasHapus
  14. Saya kok teringatnya lebih ke ayah dari anak-anak alias suami saya ya... mungkin karena suami sudah lebih dulu pergi meninggalkan putra-putri yang biasa "dimanjanya", saya melihat suami sebagai sosok ayah yang begitu penyayang kepada anak-anak yang saya lahirkan...

    BalasHapus